Selasa, 04 Oktober 2016

Peraih Penghargaan Nobel Fisika 2016

The Nobel Prize in Physics 2016 was divided, one half awarded to 

David J. Thouless

the other half jointly to 

F. Duncan M. Haldane and J. Michael Kosterlitz 

"for theoretical discoveries of topological phase transitions and topological phases of matter".


David J. Thouless
David J. Thouless
Born: 1934, Bearsden, United Kingdom
Affiliation at the time of the award: University of Washington, Seattle, WA, USA
Prize motivation: "for theoretical discoveries of topological phase transitions and topological phases of matter"



F. Duncan M. Haldane
F. Duncan M. Haldane

Born: 1951, London, United Kingdom
Affiliation at the time of the award: Princeton University, Princeton, NJ, USA
Prize motivation: "for theoretical discoveries of topological phase transitions and topological phases of matter"



J. Michael Kosterlitz
J. Michael Kosterlitz
Born: 1942, Aberdeen, United Kingdom
Affiliation at the time of the award: Brown University, Providence, RI, USA
Prize motivation: "for theoretical discoveries of topological phase transitions and topological phases of matter"

Sabtu, 17 September 2016

Seminar Nasional dan Workshop Aljabar 2016

https://www.usd.ac.id/seminar/kpa2016/








SENI DAN SAINS (+ TEKNOLOGI)
Pengantar Diskusi Dosen Program S3 Kajian Budaya Seni dan Masyarakat
Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma

Asan Damanik

Pertanyaan mendasar:  Apakah ada kaitan/interaksi seni dan sains (dan teknologi sebagai anak kandung sains)?Terkait pertanyaan tersbut stidaknya ada dua pendapat yang saling diperdebatkan
Sains dan seni dua kutub yang berlawanan, keterkaitan (coinsidence) antara keduanya hanya secara kebetulan. Seni dan sains adalah dua hal yang hanya dibedakan oleh ekspressi (representasi, tampilan) dari suatu penopang fenomena dan kesamaan keduanya sebagai pertanda terhadap eksistensi penopang fenomena itu
Menurut Sheldon Richmond [1] kedua pernyataan itu keliru karena didasarkan pada asumsi yang salah, yakni rasionalitas (rationality) yang merujuk ke cognitive dan imajinasi (imagination) yang merujuk kepada irasionalitas (irrationality).  Beberapa fakta keterkaitan seni dan sains (hubungan fungsional?):
1. Zaman Renaisans bukanlah hanya sebagai masa perkembangan peradaban Yunani, melainkan revolusi sains dan seni.  Copernicus dan Galileo memulai revolusi sains yang berpuncak pada karya Leonardo da Vinci (arsitek, musisi, pelukis, penulis, dan pematung/pemahat), Michelangelo (pelukis, pemahat, pujangga, dan arsitek) dan Rembrandt (pelukis terbesar dalam sejarah Eropa)
2. Revolusi sains dan artistik (seni) berawal dari titik yang sama (hampir bersamaan).  Penemuan optik bersamaan dengan perkembangan interpretasi gambar (image).tiga dimensi dari permukaan yang digambar oleh Brunelleschi (desainer dan arsitek) dan Durer (pengulir, pelukis, dan matematikawan) dan pembacaan bayangan (image) pada teleskop Galileo. Optik....awal perkembangan !!!!
3. Masalah fundamendal yang membuat sains mengalami revolusi hebat adalah bermula dari pertanyaan:   Dimanakah kita (manusia) dikaitkan dengan kosmologi?  Pertanyaan itu dijawab oleh Copernicus yang kemudian dilanjutkan oleh Galileo yang menyatakan bahwa kita berada di sebuah planet yang mengitari matahari.  Sebelumnya, Brunelleschi membalikkan metode Yunani dan Medieval (Metode Penyiksaan untuk mendapatkan iformasi) untuk membentuk ruang dan kanvas.  Objek dinyatakan di atas kanvas (lukisan) sesuai dengan mata (penglihatan) yang punya objek dan kanvas.
4.   Revolusi teori relativitas Einstein yang memperluas mekanika Newton dari konsep “ruang dan waktu” menjadi “ruang-waktu”.  Revolusi sains akibat teori relativitas Einstein membuka cakrawala baru berpikir dari yang konsep absolut ke konsep relatif.  Dalam sains selain logika juga memerlukan impressi (imajinasi) yang dibangun dari konsep-konsep matematika (sarana berpikir ilmiah) yang juga dijumpai dalam seni (adanya/memerlukan imajinasi dan impressi/improvisasi).  Einstein sebagai fisikawan terbesar abad-20 adalah juga pemain biola handal (seni dengan improvisasi dan imajinasi).

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bagaimana seni dan sains (yang diperdebatkan sebagai dua kutub yang berseberangan) mempunyai kesamaan tujuan yakni untuk menggambarkan sesuatu objek sehingga dapat dinikmati, dapat dilukiskan atau dirumuskan (gambar/lukisan atau hukum/persamaan matematis),  dan dipahami secara mendalam sehingga diperoleh gambaran utuh tentang sesuatu objek/fenomena sebagai sebuah keindahan (estetis). Paradigma representasi dalam seni dieksplorasi lebih jauh......!!!! Sekarang ada seni non-representasional (seni sebagai eksplorasi) 

Karena kedua kajian itu (seni dan sains) merupakan fokus perhatian manusia sejak dahulu kala karena terkait dengan eksistensi manusia dikaitkan dengan rasionalitas dan imajinasi dan keduanya memerlukan improvisasi sehingga dapat dikatan seorang ilmuwan sejati adalah seniman sejati juga.  Dari sejarahnya, seni dan sains (+teknologi)  berkembang sejalan (paralel) dan sering saling menopang satu sama lain.   Secara sederhana, kaitan antara seni, sains, dan teknologi dapat dilukiskan seperti pada Gambar 1.

 
Pada perkembangan berikutnya (masa kini dan masa depan) inetraksi antara sains dan seni tidak dapat dihindarkan.  Teknologi sebagai produk sains (anak kandung sains) sudah memasuki dunia seni (modern) dan bahkan mempengaruhinya.  Dunia seni modern (bahkan seni tradisonal) sudah memerlukan sentuhan sains/teknologi seperti forgrafi, rekaman suara dan gambar, digitalisasi, akustik, lighting, dan tata panggung.  Bahkan pada perkembangannya dunia seni memasuki ranah kosmologi dan astrofisika sebagai garapan seni baru yang memukau karena penuh imajinasi dan rasionalitas sehingga membawa pengalaman baru bagi pemirsanya.  Jadi, seniman memerlukan sains dan teknologi sebagai bahan kajian dan objek baru dalam menghasilkan karya seni inovatif, kreatif, dan inspiratif.

Stephen Wilson dalam bukunya Information Arts: Intersection of Arts, Science, and Technology menuliskan sebagai berikut [2]:

Ilmuwan juga pada akhirnya memerlukan seniman dalam melukiskan dan menggambarkan karya ilmuwan sehingga dapat dinikmati masyarakat secara populer lewat pertunjukan seni (karya seni) sehingga sains dan keindahannya bukanlah produk ekslusif yang hanya dapat dinikmati ilmuwan saja tetapi juga oleh masyarakat awam lewat karya seni para seniman dan para teknolog yang menghasilkan produk inovasi (teknologi) akibat perkembangan sains yang luarbiasa.

Perkuliahan Matakuliah Seni dan Teknologi bisa ditawarkan sebagai berikut atau kombinasinya: 
1. Kuliah klasikal dengan buku teks karangan Stephen Wilson dan buku teks lainnya terkait sains dan teknologi serta aplikasinya dalam seni 
2.   Jurnal-jurnal terkait sebagai bahan diskusi kelompok/tugas mandiri 
3.    Seminar  
Contoh-contoh karya/kasus-kasus interseksi seni, sains dan teknologi (yg sdh ada) 
Mengunjungi pameran untuk mengetahui kondisi real (artjog)
Core dipikirkan Tim/Dosen S3 kajian Budaya
Hasil kuliah/seminar/diskusi Seni dan Sains/Teknologi ini akan diusahakan proposal penelitian terkait interseksi seni, sains, dan teknologi dan publikasi di jurnal internasional/konferensi internasional dan lama-kelamaan akan dapat dihasilkan sebuah buku teks Interseksi seni, sains dan teknologi.

Referensi
[1] Sheldon Richmond, 1984, The interaction of art and science, Leonardo 17 (2), pp. 81-
      86
[2] Stephen Wilson, 2002, Information of Arts: Intersection of Arts, Science, and

     Technology, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts, London, England.

Minggu, 29 Mei 2016

Gaya/Interaksi kelima dengan mediator Boson Tera Vektor X

Oleh: Asan Damanik

Beberapa bulan terakhir ini komunitas fisika dihebohkan dengan wacana : gaya kelima atau interaksi kelima (the fifth force) menyusul empat jenis gaya (interaksi) yang sudah dikenal selama ini yakni: gaya (interaksi) gravitasional, gaya (interaksi) lemah, gaya (interaksi) elektromagnetik, dan gaya (interaksi) kuat.

Dalam fisika ide atau gagasan kemungkinan adanya gaya kelima, keenam, dan seterusnya  boleh-boleh saja apalagi ditopang oleh argumentasi yang meyakinkan misalnya bukti matematis, dan konsekuensi logis, selain bukti eksperimen secara meyakinkan.  Wacana dan keyakinan akan eksistensi gaya kelima itu mencuat setelah tim peneliti Hungaria yang dipimpin oleh A. J. Krasznahorkay mempublikasikan hasil penelitian mereka terhadap pengamatan anomali pembentukan pasangan internal dari atom Beryllium tereksitasi yang berubah menjadi Beryllium tambah boson X yang kemudian boson X meluruh menjadi pasangan elektron-positron.

Hasil penelitian mereka itu diposting di arXiv (arXiv:1504.01527) dan kemudian dipublikasikan di Jurnal Fisika bergengsi Physical Review Letters 116, 042501 (2016).  Paper yang meyusul kemudian ditulis oleh S. N. Gninenko et. al (arXiv:1604.08432) dan oleh Jonathan L. Feng et al (arXiv:1604.07411) mendukung hasil yang dilaporkan tim peneliti Hungaria itu disertai dengan ulasan akan eksistensi gaya (interaksi) kelima yang dapat dijelaskan eksistensinya dari hasil eksperimen tim peneliti Hungaria itu.
1504.0152arXiv:1504.01)
Secara skematis proses peluruhan tersebut digambarkan sebagai berikut:

                                           Be*---> Be X
                                           X---> e(+)  +  e(-)

Boson X dengan massa sekitar 17 MeV/c^2 dinyatakan sebagai mediator interaksi kelima dan jangkauan interaksi kelima itu sejauh 12 fm (1 fm = 10^(-15) m).

Sabtu, 12 Desember 2015

Dark Matter dan Dark Energy: Riak Baru dalam Kolam Tua.



Oleh: Asan Damanik

Pengetahuan kita terhadap alam dan materi yang ada di alam semesta ini baru sekitar 4 persen (atom dan senayawanya beserta interaksi yang menyertainya).  Fakta itu didasarkan pada pengetahuan kita kini terhadap materi yang ada di alam yakni materi pembentuk planet, bintang, dan galaksi ternyata hanya sekitar 4 persen dari seluruh alam semesta ini.  Fakta itu menimbulkan pertanyaan:  Apa bentuk dan karateristik serta interaksi materi yang tidak dikenal itu yang persentasinya sekitar 96 persen?   Atribut yang diberikan kepada materi dan energi yang belum diketahui itu secara jelas adalah "Dark Matter" (DM) dan "Dark Energy" (DE) untuk membedakannya dengan materi dan energi yang sudah kita kenal selama ini sebagimana dipelajari dalam fisika.


DM dibedakan menjadi Cold Dark Matter (CDM) dan Hot Dark Matter (HDM) dan diperkirakan DM ini sekitar 23 persen, sementara DE sekitar 73 persen.  DM tidak berinteraksi secara elektromagnetik sehingga sulit mendeteksinya secara eksperimen.  Diduga DM hanya berinteraksi secara gravitasional.  Oleh karena itu pengetahuan terhadap interaksi gravitasional merupakan kunci untuk menguak misteri DM tersebut.

DE diasosiasikan denga vakum dan tidak mempunyai efek gravitasional secara lokal tetapi global.  Dengan demikian DE ini terdistribusi secara merata di seluruh ruang dan waktu alam semesta ini dan diduga DE berkontribusi terhadap pengembangan (ekspansi) ruang dan waktu alam semesta yang dari waktu ke waktu semakin membesar (mengembang).

Apakah ada kelak Dark Force (DF) dan Equation of Motion untuk DM? Kita berharap demikian sehingga pemahaman kita terhadap alam dan interaksinya menjadi lebih lengkap dan sebagaimana lajimnya akan dibarengi dengan munculnya aplikasi baru dan teknologi baru untuk kesejahteraan umat manusia.

Rabu, 01 Juli 2015

Jual beli Ijazah: Benang Kusut Dunia Pendidikan dan Kebijakan Pemerintah

Akhir-akhir ini marak pemberitaan media cetak, elektronik, dan media sosial tentang Ijazah palsu (S1, S2, S3) alias ijazah yang diperoleh dengan cara dan proses yang tidak mengikuti aturan yang sebenarnya. Sebenarnya, maraknya transaksi jual beli ijazah itu dapat dianalisis secara sederhana dengan menggunakan teori/prinsip/hukum ekonomi: Hukum Permintaan dan Penawaran. Mengapa sampai terjadi dan berlaku hukum Permintaan dan Penawaran itu di dunia pendidikan, tidak pernah dipertanyakan apalagi dianalisis oleh para pakar dan pembuat kebijakan di negara ini.
Sudah sejak lama sebenarnya transaksi jual beli Ijazah itu terjadi, namun belakangan ini begitu marak dan menjamur serta belakangan ini banyak lembaga pendidikan (?) yang melihat peluang permintaan Ijazah itu sebagai sebuah peluang bak pedagang di pasar pagi. Permintaan akan ijazah S1, S2, dan S3 yang begitu marak akhir ini sebenarnya akibat Kebijakan/Peraturan Pemerintah yang mengharuskan seseorang pegawai dapat menduduki jabatan dan apresiasi tertentu harus berpendidikan minimal S1 (misal kebijakan sertifikasi Guru), dan sebagainya di kantor-kantor pemerintahan yang mensyaratkan pegawainya harus berpendidikan S2 bahkan S3 agar dapat menduduki Eselon tertentu. Pemerintah sebenarnya ikut andil memperparah terjadinya transaksi jual beli Ijazah tersebut dengan berbagai peraturan dan kebijakan yang dibuat terkait kepangkatan dan apresiasi pegawai negeri (PNS). Sebagai contoh, Pegawai dan Guru yang dulunya belum berpendidikan S1 akhirnya ramai-ramai melakukan jalan pintas untuk memenuhi peraturan pemerintah itu. Memang ada yang legal, tetapi banyak juga yang asal-asalan sebab muncul juga berbagai tawaran dari lembaga pendidikan tinggi untuk menampung permintaan akan kebutuhan Ijazah itu.  Bukankah di awal program sertifikasi Guru dan Dosen dulu ada PTS di Yogyakarta yang mengeluarkan ribuan Ijazah S1 tanpa jelas prosedur dan proses perkuliahannya?  Sekali lagi, ini adalah aji mumpung dan mengikuti hukum pasar/ekonomi, tansaksional belaka.
Seharusnya pemerintah lebih menekankan pada integritas, kinerja, prestasi kerja, loyalitas dan pengabdian dalam hal menggaji dan mengangkat seseorang menduduki jabatan dan posisi tertentu, bukan didasarkan apalagi diutamakan pada tinggi rendahnya Ijazah yang dimiliki seseorang. Contoh kasus, untuk menjadi guru SD harus berpendidikan S1 padahal untuk Guru SD cukup lulusan Sekolah pendidikan Guru (SPG) setingkat SLTA. Akibat peraturan pemerintah itu ramailah Perguruan Tinggi membuka Kuliah jarak jauh, membuka Jurusan/Program Studi PGSD, dsb, khususnya ramailah transaksi jual-beli Ijazah dengan segala konsekuensinya. Sudah beberapa tahun kebijakan pemerintah itu berjalan, sudahkah mutu pendidikan kita meningkat akibat Ijazah Guru sudah setingkat S1? Jawabannya TIDAK JUGA. Jadi apa gunanya (dampaknya) kebijakan itu? Entahlah, apa landasan atau rasional kebijakan itu, dan sampai kini kebijakan itu tidak pernah dievaluasi secara benar. Hanya didasarkan pada sinyalemen sana sini pembuat kebijakan di negara ini sudah berani membuat kebijakan dan Peraturan pemerintah. Hal seperti itulah yang sering terjadi sehingga permasalahan bukannya teratasi melainkan bertambah banyak dan rumit bagaikan benang kusut. Kasus jual beli Ijazah ini hanya salah satu dari sekian banyak kasus serupa (mirip) di sektor lain di negara ini, semuanya TRANSAKSIONAL belaka, hanya memberlakukan hukm PASAR Permintaan dan Penawaran itu, tanpa ada sentuhan dan kebijakan yang mendasar dan terprogram untuk jangka panjang yang dapat mewujudkan cita-cita bangsa sebagimana dicita-citakan oleh Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Sedih dan geram. Itulah yang ada pada mereka yang mengerti dan memahami apa arti, makna, dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Seorang dosen saya (Gurubesar Fisika) di salah satu PTN ternama pernah berpesan kepada saya agar jangan pernah kecewa apalagi geram dan sedih di negara tercinta ini. Sebab apa? Kata beliau: Pandangan terhadap Fisika dan Fisikawan di negara ini berbeda dengan negara lain, karena itulah negara lain maju dan berhasil meraih kemajuan. Di negara kita ini, pemerintah itu hanya mengikuti hukum pasar tanpa ada konsep dan program yang jelas dengan dukungan sumberdaya dan peraturan yang mendasar serta konseptual. Beliau juga berpesan: SABARLAH KALAU SAAT INI DAN SAMPAI WAKTU TAK TERBATAS NANTI, FISIKA DAN FISIKAWAN DI NEGARA INI TIDAK DIPANDANG SEBAGAI YANG HARUS DIUTAMAKAN DALAM MERAIH KEMAJUAN IPTEK SEBAGAI MANA NEGARA LAIN.